industry, hidden history and legacy the island of the gods

Home / Paintings / industry, hidden history and legacy the island of the gods

industry, hidden history and legacy the island of the gods

made bayak-industry hidden history and legacy the island of the gods-mixed mediaIndustry, hidden history and legacy of the island of the gods 125x245cm mixed media on plywood

Karya ini adalah persembahan saya untuk tanah kelahiran saya Bali, hari ini banyak persoalan yang dihadapi Bali sebagai destinasi wisata, budaya dan orang-orang Bali-nya sendiri.

Pariwisata seperti pedang bermata dua, disatu sisi memberikan dampak yang bagus bagi perkembangan masyarakat Bali. Namun disisi lain menjadi bencana bagi nilai-nilai budaya lokal yang semakin tergerus seiring pesatnya pembangunan. Dan dampak bagi lingkungan lebih parah lagi, ketika tidak ada perencanaan dan kontrol yang kuat dari segenap masyarakat dan pemerintah.

Banyaknya alih fungsi lahan pertanian produktif untuk pembangunan fasilitas pariwisata yang sebenarnya tidak perlu, fasilitas yang ada sebenarnya masih cukup, namun karena besarnya minat investor untuk membangun membuat berjamurnya pembagunan private villa dan hotel. Disamping itu pariwisata telah memabukan masyarakat Bali, terutama generasi mudanya, dimana pandangan menjadi petani tidaklah keren. Mereka berpandangan  jauh lebih keren kalau bekerja di hotel atau villa karena berseragam, jamnya kantoran, walau hanya manjadi security atau garderner karena terlihat lebih bersih, tidak bergumul lumpur dan “kontor”. Budaya agraris yang sudah ratusan tahun terbentuk dan menjadi bagian erat kebudayaan Bali, bahkan telah meninggalkan artepak kebudayaan yang bernilai sangat tinggi. Subak, salah satu sistem irigasi yang sangat cerdas, kini merana karena sawah-sawah banyak menjadi areal perumahan, private villa dan hotel. Ironinya. mereka meratakan teras-teras sawah, menanaminya dengan beton dan menamainya dengan nama-nama areal tersebut, seperti terrace villa, the village hotel, sawah indah, dll.

Konsumerisme dan kapitalisme menjadi dewa baru di pulau sorga ini, mall, restoran, hotel dan jejeran gift shop membawa “mahluk asing” bagi alam dan lingkungan  Bali, mereka berwujud kantong dan botol plastik yang jumlahnya berton-ton setiap harinya. Dengan “tong sampah alami” yang banyak ada di Bali, jurang dan sungai menjadi tempat pembuangan sampah-sampah tersebut. Munculah masalah baru, sampah plastik yang mencemari laut, pantai, sungai dan sawah di Bali. Tidak adanya mengolahan sampah yang baik menyebabkan sampah tersebut tidak tertangani.

Sebelum plastik dikenal, masyarakat Bali menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Sehabis makan, pembungkus daun itu langsung dibuang di sembarang tempat dan tentu dengan mudah akan diurai alam. Namun, kebiasaan membuang sampah tersebut mengendap di alam bawah sadar, dan diwariskan turun temurun. Ketika sekarang banyak makanan dan minuman dibungkus plastik, perilaku membuang sampah masih tetap mengikuti kebiasaan lama. Sampah plastik dibuang sembarangan tanpa kesadaran akan efek negatifnya. Bahkan banyak petani menggunakan sampah plastik untuk alat mengusir burung pipit, dan sisa plastik itu akhirnya mencemari sawah.

dari proses saya menggali tentang industri pariwisata ini, ternyata sangat erat keterkaitannya dengan sejarah dan tragedy 1965 di Bali. Pada masa itu pembersihan terhadap orang-orang yang dilabeli PKI memang bukalah hanya sekedar amuk masa seperti dikesankan, namun sebuah proses sitematis untuk menghabisi idiologi politik, pergerakan berbasis kelas, gerakan petani dan buruh dan orang-orang kritis lainya. Sehingga memudahkan masuknya sistem baru berupa kapitalisasi Bali sebagai destinasi  wisata, yang juga akan mengkonstruksi industri pariwisata Bali sampai hari ini, bagaimana image orang-orang Bali dibentuk, budaya bahkan kepercayaan orang Bali adalah hasil bentukan. Hilangnya gerakan dan orang-orang kritis di Bali tentunya akan memuluskan semua setingan besar atas Bali, kajian dan perdebatan kritis hampir tidak pernah terjadi atas semua kebijakan yang dilaksanakan untuk pengembangan industri pariwisata, pemimpinnya dibuat patuh terhadap pusat, menjadikan Bali seperti jalan bebas hambatan untuk masuknya investor.

Yang paling celaka adalah masayarakat Bali dikesankan apolitis, penduduknya artistik, disibukan dengan upacara yang megah dan besar. Kesenian yang dulunya merupakan kegiatan agraria masyarakat Bali dan menjadi bagian yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Saat hadirnya pariwisata, berubah menjadi komoditas yang diexsploitasi abis-abisan. Lukisan, patung menjadi barang souvenir berharga kacangan dan bahkan ada sentra-sentra grosiran terhadap barang-barang tersebut. Anak dengan umur belasan beserta kelompok-kelompok kesenian diangkut dengan truk menuju hotel-hotel untuk pentas dihadapan turis dengan bayaran yang tidak seberapa. Cerita drama tari sarat makna filosofis yang sakral digubah, disesuaikan dengan kebutuhan tontonan bagi wisatawan.

Orang Bali dibuat mabok dengan pariwisata yang menjanjikan kehidupan lebih layak, namun pariwisata hanya memberikan 1% manfaat bagi masyarakat Bali. Namun dampak yang diakibatkan sampai hari ini sedemikian besar, orang Bali tidak mempunyai bayangan dengan masa depannya tanpa pariwisata terbukti saat bom Bali terjadi dan wisatawan stop datang semuanya kesusahan seolah-olah dunia sudah kiamat.

Saya menggunakan lukisan pemandangan yang dibeli di kios grosiran, kemudian saya respon dengan menambahkan bagunan-bangunan dan tulisan promosi tanah dijual, persis seperti banyak terjadi hari ini di Bali. Lukisan tersebut saya tempel di tengah-tengah bidang putih dengan kolase surat kabar lokal. Bidang putih tersebut saya isi dengan sketsa yang saya adopsi dari bentuk rerajahan Bali (gambar bersifat mistik), seri cerita kawah Candradimuka, penghakiman bagi roh setelah kehidupan, jakalau kita melakukan dosa pada saat menjalani kehidupan duniawi, yang mencerminkan nilai luhur masyarakat Bali zaman dulu, namun terasa hambar kini disaat materialism didewakan, banyak orang tidak percaya lagi tentang ajaran karmapala, kamu berbuat, kamu juga akan mendapat hasilnya.

Bagian atas ada dua buah mahluk (adopsi rerajahan) dengan dua lidah berujung api warna hitam menjulur seperti jalan raya menjilati sebuah wajah dengan mata terpejam, sedagkan mata ketiganya membuka.

Di sisi lain ada sebuah gambar mobil keruk yang biasanya dipergunakan dalam proyek pembangunan, menggambarkan situasi Bali hari ini, namun tetap dengan visual mengadopsi bahasa visual lukisan tradisional Bali, di atasnya ada sebuah banguna candi bentar namun konstruksinya kellihatan dan sudah rapuh memiuh dengan warna putih.

Paling bawah dengan teknik pointelis, ada jejeran tengkorak dan tulang-tulang menggambarkan pondasi bangunan kebudayaan dan industri pariwisata Bali terbangun dari tumpukan korban tragedy 65 yang sampai saat ini masih menjadi aib bagi sebagian orang untuk mengingat dan membicarakannya. Bagi orang Bali tragedy itu sudah “dibersihkan” dengan sebuah upacara besar dan hendaknya jangan diungkit-ungkit lagi.

Beberapa kali terdengar kabar ketika ada sebuah pembangunan fasilitas hotel di kawasan tertentu di Bali, saat pembuatan pondasi para pekerja menemukan tulang belulang manusia atau saat terjadi abrasi sebuah pantai dikawasan Bali barat, tiba-tiba banyak tulang manusia muncul karena daratan semakin tergerus air. Kalau melihat sistem upacara ngaben di Bali, masayarakat Hindu Bali yang terpengaruh Hindu Siwa tidak pernah menyisakan tulang manusia terkubur, semuanya akan dibakar menjadi abu, kecuali beberapa kepercayaan kuno Bali pedalaman seperti Truyan atau di desa Gobleg di Bali utara. BIsa dipastika tulang-tulang tersebuat berasal dari kuburan massal atas orang-orang yang dilabeli anggota PKI, dibunuh di tempat itu dan langsung dikubur disana.

Comments

comments

Recommended Posts

Leave a Comment

16 + 5 =

Contact Me

Not readable? Change text. captcha txt