Arm our Family

Home / Paintings / Arm our Family

Arm our Family

Arm our Family

Pendidikan harusnya membuat kita lebih kritis, peduli dan berpijak pada kebenaran, sama dengan seni dan seniman seharusnya kritis dan mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran

Made bayak, Tan Malaka 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Seni rupa (lukis) merupakan wilayah kecil dari wacana besar kesenian yang meliputi berbagai ragam jenis, dari seni lukis ini saya belajar banyak tentang nilai-nilai dalam menjalani kehidupan, pernah menjadi sangat nihilistic, pesimis yang mungkin sangat tipis bedanya dengan sifat malas, karena semuanya salah, tapi tidak pernah melakukan apa-apa. dan dari seni lukis ini juga saya ingin berbagi dengan kawan-kawan tentang mimpi, hasrat dan harapan akan sebuah perubahan disemua bidang termasuk dalam keluarga kecil saya. Seni lukis yang mempertemukan saya dengan istri sekarang ketika menempuh studi diprogram seni rupa murni ISI Denpasar, dan seni lukis ini juga yang menjadi salah satu media pendidikan terhadap anak saya, sekaligus menjadi media berbagi dengan anak-anak dan komunitas lainya. Dengan seni saya memperlihatkan dan menanamkan kepada anak hal yang paling sderhana, untuk tidak membuang sampah sembarangan dan juga bagaimana dengan seni kita bisa memanfaatkan sampah yang ada, seperti trash art project yang sedang saya kembangkan saat ini, dari proses itu secara tidak langsung saya memanamkan sikap kreatif untuk mengolah gagasan dalam berkarya rupa.

Damar Langit Timur, barong and rangda 40x50cm marker and paint on canvas 2010

Seni rupa/lukis adalah salah satu media untuk mengungkapkan imajinasi , ide dan gagasan tentang berbagai hal, dari yang paling sederhana sekali, sampai yang berjejal dengan konsep, kutipan-kutipan filsafat dan buku seni. Ada yang mencari esensi dari seni itu sendiri, namun banyak juga yang meyakini seni itu bisa membuat sebuah perubahan dalam berbagai hal, termasuk saya salah satunya adalah yang mempunyai keyakinan seni seharusnya bisa lebih “berguna” bagi lingkungannya.

Exspresi seni anak-anak adalah yang paling murni, mereka menggambar apa yang terekam dalam pikirannya tanpa pretensi apa-apa, hanya sebagai ungkapan kesenangan akan sebuah wujud tertentu, kepekaan visual adalah hal yang sangat penting selain kepekaan oral dalam perkembangan anak, ketika ingin menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan hal yang disukai, coretan atau gambar bisa mejadi sarana menumpahkan itu.

Keliaran imajinasi itu seharusnya diperihara dan dibiarkan tetap liar, biasanya anak ketika mengenal sekolah pada umumnya mendapatkan pendidikan lukis atau yang belajar di sanggar lukis yang banyak brjamuran skarang, umumnya mereka akan menjadi seragam, baik itu bentuk dan gaya lukisan, komposisi, warna dan proses kreatif yang mereka jalani, lagi-lagi terjadi penyeragaman kreativitas.

Bahasa visual juga bisa menjadi sangat idiologis dan politis, tentunya kita semuanya ingat semasa SD dulu setiap mendapatkan pelajaran melukis pasti yang divisualkan adalah image dua buah gunung, kadang-kadang membuatnya pun menggunakan penggarisan supaya lebih rapih, dibalik gunung muncul matahari yang bersinar terang, dari gunung ada jalan raya lengkap dengan tiang listrik dengan perspektif ala kadarnya, satu atau dua buah mobil sedang melintas, di sebelah kiri kanan ada persawahan yang mulai ditanami padi, dan beberapa batang pohon kelapa. Siapapun yang berani berkreatifitas diluar pakem-pakem tadi sudah bisa dipastikan akan mendapatkan nilai yang jelek, Itu ternyata terjadi diseluruh Nusantara. Jaman itu memang sangat ketat sekali dilakukan kontrol terhadap masyarakat oleh rezim yang sedang berkuasa, sampai materi pelajaran sejak dini pun sebisa mungkin jangan ada yang bernuansa kritis terhadap realita yang sebenarnya, sampai sejarah pun dibelokan menjadi versi penguasa dan itu terjadi dalam kurun waktu 32 tahun lebih bahkan kerena banyak yang terllibat dalam konspirasi itu hingga saat ini pun ketika reformasi hampir 16 tahun terjadi masih ada banyak kasus yang sengaja tidak dibiarkan untuk terungkap.

made bayak, Occupy our mind 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Ketidaksiapan tenaga pengajar kesenian khususnya seni rupa juga menjadi persoalan, dimana guru yang notabene berlatar belakang ilmu pasti didapuk  untuk mengajar kesenian juga. Jadi apresiasi anak tidak terasah dari kecil, jadi jangan heran jika generasi kita tidak menghargai budaya dan kesenian mereka sendiri dan lebih condong sangat terbuka tanpa sikap kritis dengan trend budaya yang dianggap keren dan datang dari Eropah dan Amerika. Salah satu contoh saat budaya J-rock dan K-Pop (Japan rock dan Korean pop) kita tidak pernah mempelajari bagaimana mereka mempersiapakan itu selama 15 tahun sebelum menjadi trend seperti sekarang, kita disini hanya menirunya maka jadilah bangsa pengekor dan ekor biasanya tidak pernah menjadi kepala.

“Mengertilah dunia anak, karena orang dewasa sudah pernah menjadi anak, sedangkan anak belum pernah menjadi orang dewasa” kutipin ini memang benar sekali namun sangat sulit untuk dilaksanakan oleh para orang tua atau orang dewasa, selalu saja kita orang dewasa ingin menuruti ideal kita yang belum tentu sesuai dengan anak, kita selalu melihat sesuatu itu dari sudut pandang diri sendiri.

Arm our family, ide dasarnya dari teks yang terdapat dalam gitar Tom Morello gitaris dari Rage Against the Machine, sekaligus dia namai gitar itu Arm the Homeless. Makna yang terkandung dalam teks itu sangat dalam, walau sepintas sangat provokatif dari segi bahasanya. Jika diartikan dalam bahasa kita akan bebermakna: persenjatai para tunawisma, yang tak bertanah, masyarakat bawah, orang tertindas, sebut saja lainya, namun jika ditelisik lagi makna persenjatai itu adalah bukannya memberi mereka memegang senjata dan memberontak/berperang, namun persenjatai semua orang-orang itu dengan pendidikan yang baik, pendidikan politik yang baik membuat kita sadar dengan hak dan kewajiban politik kita dan nantinya akan membuang ke laut sistem dan praktek politik kapitalis nan culas seperti yang terjadi hari ini, yang hanya mementingkan kelompok dan golongan mereka sendiri.

Pendidikan sosial yang bertanggung jawab, sehingga kita tidak menjadi masyarakat individualistik yang konsumtif yang menyebabkan kita malas berfikir, sedemikian kompleksnya permasalahan hari ini, namun seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Pendidikan budaya yang luas, seluas wilayah Indonesia ini, sehingga kita tidak lagi berfikir saya orang Bali berbeda dengan orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Irian Jaya dan lainya, budaya kita beragam bahkan sangat beragam, seharusnya terbentuk pola fikir dalam benak setiap orang Indonesia bagaimana itu menjadi kemajemukan yang mempercantik bangsa ini.

Dan yang terakhir pendidikan agama, seharusnya ini menjadi tidak terlalu penting dibahas karena sangat individual sifatnya, namun menarik dibicarakan karena agama dan kepercayaan ternyata menjadi masalah utama di negeri ini, penyebab terjadinya banyak konflik dan Negara ternyata belum menjamin kebebasan rakyatnya untuk urusan dengan sang penciptanya.

Kartika Dewi, men brayut 90x90cm acrylic on canvas 2012

Arm our family mempunyai makna “persenjatai” keluarga kita masing-masing, dengan pendidikan yang holistik, pendidikan yang bukan hafalan, pendidikan yang tidak tercerabut dari situasi sosial, budaya, minat dan bakat setiap benih yang hidup di negeri ini. Pendidikan yang paling sederhana dan kecil dalam lingkup keluarga sendiri, membuang pemikiran kolot yang menghambat perkembangkan, dengan tetap menghargai nilai-nilai luhur yang diwariskan, bukankah keluarga adalah bentuk kecil dari komunitas yang membentuk Negara? Jadi perbaikan Negara ini bisa dimulai dari keluarga, bahkan dari diri kita sendiri, dengan cara lebih kritis terhadap berbagai hal, saling berbagi  dan memberikan pendidikan yang baik bagi setiap generasi penerus masa depan. Atau terjun dan membentuk dalam sebuah inisiative dibidang pendidikan atau lainya yang memberikan solusi atas persoalan yang sedang dihadapi dalam suatu komunitas. Seni rupa hanyalah salah satu bidang kecil, banyak bidang dan profesi lainya jika dijadikan “senjata” akan sangat bermanfaat bagi keluarga sendiri dan tentunya sedikit bisa berbagi dengan komunitas yang lainya.

Damar Langit Timur, Orangutans 60x80cm acrylic on canvas 2012

Pameran ini akan memajang karya-karya lukis dari made bayak, istri saya Komang Kartika dan anak saya Damar Langit Timur. Karya saya masih pada gagasan tentang berbagai persoalan yang sedang terjadi di Bali, masalah sosial, budaya, politik dan lainya sudah banyak dibicarakan seblumnya. Dalam karya ini ada bayangan yang paling buruk tentang tanah ini jika kita semua tidak memperbaiki sikap dan pola fikir kita, julukan Bali yang menjadi sorga yang hilang bisa benar-benar menjadi kenyataan dan tentunya kita semua tidak mengingikan hal yang terburuk terjadi bukan? Harapan akan munculnya sebuah solusi dari semua permasalahan masih tetap ada dan semoga harapan tidak hanya sekedar harapan semu. Sedikit solusi dari bidang seni saya coba tawarkan, tidak hanya dalam gagasan tapi dalam praktek dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai media dalam berkarya, menggunakan konsep reuse, reduce dan recycle sebagai konsep yang ampuh dalam “melawan” konsep materialisme dan konsumerisme dimana kepemilikan barang-barang baru menjadi ukuran yang utama dan salah satu masalah utama di pulau kecil ini adalah sampah, budaya dalam masyarakat kita belum mempunyai konsep daur ulang sampah. Mungkin ini tidak memberi solusi secara signifikan terhadap penanggulangan masalah sampah, tapi setidaknya memberi wacana lain dari cara melihat permasalahan dan menemukan solusinya.

Saya sendiri tidak pernah memaksakan anak saya untuk menggambar, saya sadar ketika mengamati kesukaanya mencoret-coret  tembok kamar, dapur sampai toilet, bahkan kadang karya lukisan saya tidak luput dari proses vandal-nya. Namun sayang juga jika potensi yang sudah ada tidak dimaksimalkan, dengan cara memfasilitasi si anak sehingga bakatnya bisa terasah dengan maksimal.

Umur 2 tahun Damar sudah bisa memvisualkan binatang yang dia maksud, entah kenapa dia suka sekali dengan babi, binatang itu kerap muncul dalam coretan-coretanya sejak awal, kuda juga menjadi binatang favorit selain sapi dan kerbau, kemudian muncul ketertarikan dengan barong, ranggda, celuluk dan mahluk mitilogi Hindu Bali lainya, ogoh-ogoh juga,  sekarang lebih rumit lagi, dia sukanya sudah mulai sambil bercerita dan menangkap pengalaman dia ketika pergi kesuatu tempat, kemudian sampai di rumah minta buku gambar dan memvisualkan apa yang dia lihat dengan bahasa visual khas anak-anak.

Damar Langit Timur, ogoh-ogoh 40x50cm marker and paint on canvas 2010

Istri saya dasarnya adalah sama, dia lulusan pendidikan seni di ISI Denpasar, namun 3 tahun belakangan ini sangat jarang sekali berkarya, sesekali berkarya hanya untuk pameran bersama. Karya-karyanya dari awal memang mmpersoalkan masalah perempuan entah itu sebagai target konsumerisme, konsep cantik itu harus sesuai dengan yang ada di majalah atau televisi, ramping, kulit putih dan standar lainya yang dilabelkan. Karya yang sekarang lebih pada peran perempuan Bali, sebagai ibu yang bukan hanya bertugas melayani suami tapi tugasnya juga dalam memberikan pendidikan bagi anaknya, bagaimana perempuan Bali yang selalu disibukan dengan ritual yang mau tidak mau harus dijalankan apalagi kemudian dia menikah dan menghadapi situasi dan kondisi baru di rumah suaminya, menghadapi mertua dan keluarga dari suaminya. Dengan momen pameran ini saya ingin mendorong kembali dia untuk berkarya, bukan untuk siapa, tapi untuk menunjukan kepada putra kami bahwa kesenian khususnya seni rupa itu adalah hal yang menarik selain semua ilmu humanora yang dia dapatkan nantinya di sekolah, kata pintar atau cerdas itu adalah jika seseorang unggul dalam bidang matematika, kimia dan lainya, budaya dalam masyarakat kita tidak pernah mengapresiasi bakat seseorang dibidang seni padahal seni itu paling dekat dengan keseharian. Dengan seni kita bisa melakukan banyak hal untuk dunia ini, entah nantinya dia mau mengikuti jejak orang tuanya atau tidak, namun setidaknya dia punya kepekaan, ketrampilan dan kepercayaan diri dalam menantang kehidupan ini.

Kartika Dewi, ibu dan anak 90x90cm acrylic on canvas 2012

Semoga semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pendidikan karakter sehingga tercipta sebuah generasi yang tidak apatis dan ignorance dengan keadaan di sekeliling mereka, generasi yang mampu memaksimalkan potensi diri dan menyerap semua permasalahan ditempat dimana mereka berada sehingga selalu mampu memberi solusi bagi setiap permasalahan yang muncul, entah itu mereka mau jadi pelukis, pemusik, penyair, penulis, perancang busana dan profesi apapun itu. (Made bayak adalah seorang suami, seorang ayah, volunteer di Sanggar Anak Tangguh dan seniman visual dan gitaris dari band indie geekssmile)

English version

Arm our Family

“Education should make us more critical, caring and grounded in truth, together with arts and artists should be critical and revealing about the true values”

Kartika Dewi, gadis bali 50x60cm acrylic on canvas 2012

Fine arts (painting) is a small region of the discourse of art covering a wide range of diverse types, from visual arts I learned a lot about values ​​in life, was once a very nihilistic, pessimistic that the difference may be very thin with a lazy nature, because everything wrong but never do anything. and from this visual arts I wanted to share with my friends about the dreams, desire and hope for a change in all areas including in my small family. Visual arts that bring me to my wife now, we meet when we studying fine art programmable at Institute of Art in Denpasar, and with these visual arts also are the one medium of education for my children, as well as a media to share with childrens and other communities. With my arts I show and instill in my kid the most simple thing, for not being ignorance and littering anywhere and also how we can utilize the art of existing waste, such as trash art project that I’m developing today, of that process are directly showing my attitude to cultivate creative ideas in a way to work.
Fine arts / painting is one of the media to express imagination, ideas and thoughts about various things, from the simplest one, until the jam-packed with the concept, philosophy and quotations art book. Anyone looking for the essence of art itself, but many also believe that arts can make a change in a variety of things, including me is one of them, I belief that art should have a more “useful” for the environment.
Children’s art expressions are the most pure, they draw what is recorded in his mind without any pretensions, just as an expression of a particular form of pleasure, visual sensitivity is a very important addition to oral sensitivity in child development, when they want to tell you something related to things like, graffiti or pictures that could form the tool shed.

Damar Langit Timur, Bapang barong 50x60cm water color on paper 2011

Their wild imaginations it should be kept wild, usually when the childrens get to know the school in general education or studying painting in the studio painting that many today, in generally they will be same, whether it’s shape and style of painting, composition, color and the creative process which they live, again, there uniformity of creativity.
Visual languages ​​can also be highly ideological and political, of course, we all remember during the primary school had a class every painting is definitely a visualized image of two mountains, sometimes even using hatching to make it more neatly, up the mountain behind the sun shining brightly, from there is a complete mountain road with electricity poles with rudimentary perspective, one or two cars are passing, on the left right there from rice paddy fields, and some palm trees. Anyone who dared to creativity out of the grip had been certain to get bad grades, That is exactly what happened throughout the archipelago. That time was very strict control of society made by the regime in power, until early on any subject matter as much as possible so that no critical nuances of an actual reality, until the history has been turned into versions of the ruler and it happened within 32 years even because they are many peoples joint in the conspiracy until now, even when reforms almost 16 years there still exist many cases deliberately not allowed to unfold.
Unpreparedness of teachers of art, especially arts is also an issue, where teachers are in fact lined up a science background to teach the arts as well. So do not honed appreciation of small children, do not be surprised if our generation does not appreciate their own culture and the arts are very open and more inclined to uncritically with cultural trends that are considered cool and come from Europe and America. One example of the culture at J-rock and K-Pop (Korean pop and Japan rock culture) we never learn how they are preparing it for 15 years before becoming a trend as of now, we are here only to imitate them, usually the imitators only become the tail never  be a head.

Kartika Dewi, permpuan bali triptich @33x15cm acrylic on wood 2012

“Understand the world of children, because adults have been a child, while kids have never become an adult” this quote is true but it is very difficult to be implemented by the parents or adults, we always want to keep the ideal that we believe, we have not necessarily correspond with the kids, we always see things from the point of view of ourself.
Arm our family, the basic idea of ​​the text contained in the guitar of Tom Morello of Rage Against the Machine guitarist, as well as he calls it Arm the Homeless guitar. Meaning contained in the text is very deep, though seemingly very provocative in terms of language. If interpreted in the language it will mean: armed the homeless, the landless, the community, the oppressed, others call it, but if examined more armed meaning it is instead of giving them a gun to rebellion / war, but armed all the peoples with a good education, good political education to make us aware of our political rights and obligations and will be dumping into the sea all capitalist system and the political practice of and deceitful as it happens today, which is only concerned with their own groups and parties.
Responsible social education, so we do not become a consumer and individualistic society that causes us to lazy to think, in such complex problems of today, but it look everything is okay.
Broad cultural education, an area of ​​Indonesia, so we no longer think differ with I’m a Balinese different with people of Java, Sumatra, Kalimantan, Irian Jaya and the other, our culture is very diverse range even, we should form a mindset that Indonesia as an nation and in everyone’s mind how it a plurality of beautifying the nation.
And the last, religious education, this should not be too important to be discussed because it is very individual in nature, but interesting because it talked about religion and belief turned out to be a major problem in this country, the cause of many conflicts and the State has yet to guarantee the freedom of people to deal with their creator.
Arm our family has the meaning of “armed” our respective families, with a holistic education, rather than rote education, education without cut off from social situations, cultures, interests and talents of every seed that live in this country. Education is the most simple and small in the scope of our own family, throw an old-fashioned idea that inhibit the progress, while appreciating the noble values ​​that are passed, isn’t a family is a small form of the communities that make up the country? This country need more strong generations, so repairs it can be started from the family, even from ourselves, in a way more critical of things, sharing and giving good education to every future generation. Or plunge and formed in a field of education or other initiative that provides a solution to the problems being addressed in a community. Fine art is just one small area, many other fields and professions if used as “weapons” will be very beneficial to his own family and of course a little to share with other communities.

Damar Langit Timur, orangutan pose 50x60cm acrylic on canvas 2012

The exhibition will display paintings of Made Bayak, my wife Kartika Dewi and my son Damar Langit Timur. My work is still in the idea of ​​the problems that are happening in Bali, social, cultural, political and others have talked about  before. In this work there is a shadow of the worst on this earth and this island if we all did not improve attitudes and our mindset, no dubbed the Bali paradise lost could actually become a reality, and of course we all do not want a worst thing that happens is’t it? Hope for the emergence of a solution of all problems still exist and may hope not only false hope. A little solution in the field of art I try to offer, not only in ideas but in practice by utilizing waste plastic as a medium in my art, using the concept of reuse, reduce and recycle as a powerful concept in the “fight” the concept of materialism and consumerism where the ownership of new goods stuff be the size of the primary and one of the main problems in this small island is rubbish, the culture in our society do not have the concept of waste recycling. This may not provide the solution significantly to overcoming the problem of garbage, but at least give another discourse of how to see problems and find solutions.
I myself have never forced my children to draw, I realized when watching he scribble on the walls of the room, the kitchen to the bathroom, and even sometimes my paintings are not spared from its vandal process. But unfortunately also if the existing potential is not maximized, by facilitating the child so that his talents can be honed to the maximum.
On his age of 2 years Damar is able to visualize the animals that he meant, for some reason he really loves the pig, the animal often appeared in his sketch  from the beginning, the horse is also a favorite animal other than cattle and buffalo, then comes the interest to the Barong, Ranggda, Celuluk are mitological creature in Hindu Bali believe and other creatures like ogoh-ogoh (a large monsters figure during the pengerupukan day) also, now more complicated, he started to tell me joy, and capture the experience during we gone somewhere, and then came home and asked for a sketch book to visualize what he saw with a distinctive visual language of the children.

Made Bayak, Ni Luh Camplung 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

My wife is basically the same, she graduated from art education at Institute of Art in Denpasar, but 3 years she very rare work in painting, occasional work only for the group exhibition. His works from the outset it talk about matter whether it’s women as a target of consumerism, it’s a beautiful concept should correspond to those in the magazines or television, slim, white skin and other standards are labeled. The work now more on the role of Balinese women, as mothers are not only in the service of her husband but also her duty to provide education for their childrens, how Balinese women are always busy with the rituals that would not want to run let alone, then he married and facing new situations and conditions in her husband’s house, face her mother in-law and family of her husband. With this exhibition the moment I want to push her back to paint, not for anyone, but to demonstrate to our son especially art that is an interesting thing and it same with other knowledge, many people think that smart or intelligent kids if they only good in mathematics, chemistry and others, the culture in our society never appreciate a person’s talent in arts, whatever art is closest to the everyday life here. With art we can do many things for this world, whether he will want to follow in the footsteps of his parents or not, but at least he had the sensitivity, skills and confidence in challenging life in the future.

Damar langit Timur, the barong and rangda 90x70cm acrylic on canvas 2011

Hopefully more families who understand the importance of character education so as to create a generation of apathy and ignorance are not the circumstances surrounding them, the generation that is able to maximize our potential and absorbing all the problems in the place where they are located so it is always able to provide solutions for any problems that arise, either that they want to be painters, musicians, poets, writers, fashion designers and the profession whatever. (Made Bayak is a husband, a father, a volunteer at Sanggar Anak Tangguh, visual artist and guitarist of indie band geekssmile)

Made Bayak, exotisme gadis Bali 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Opening exhibition

Comments

comments

Recommended Posts

Leave a Comment

15 − 8 =

Contact Me

Not readable? Change text. captcha txt